ILMU MA’ANIL QURAN INSYA ( THOLABI WA GHOIRI THOLABI )
ILMU MA’ANIL QURAN
INSYA ( THOLABI WA GHOIRI THOLABI )
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu tugas Ilmu Ma’ani
Dosen : Ustadz Ayatullah, Lc.
Disusun Oleh :
Ahdiat 17.01.006
SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN AL-MULTAZAM
PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
(2020)
Desa Maniskidul Kec.Jalaksana Kab.Kuningan Jawa Barat
KATA PENGANTAR
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas taufiq dan hidayah-Nya kita bisa merasakan nikmatnya iman dan Islam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Al-Musthafa Shallalahu Alaihi wa Sallam, kepada para keluarganya, sahabat-sahabatnya dan generasi selanjutnya yang senantiasa berpegang teguh pada apa yang diajarkannya hingga akhir zaman.
Dengan penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa pembelajaran mengenai Ma’anil Qur’an merupakan pembelajaran yang sangat penting dan memiliki cabang-cabang yang banyak. Karena Ilmu Ma’anil Qur’an merupakan salah satu jembatan untuk bisa memahami Al-Qur’an. Selain itu sudah jelas juga bahwa Al-Qu’an merupakan panduan atau pedoman hidup untuk umat Islam. Sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak mempelajari Al-Qur’an dan senantiasa menghidupkannya.
Terimakasih sebesar-besarnya kepada Ustadz Ayatullah,Lc. selaku dosen pengampu atas bimbingannya terutama dalam proses penyusunan makalah ini. yang mana pada hal ini penulis menyusun makalah dengan judul “Al-Insya (tholabi wa ghoiri tholabi)” penulis mengucapkan banyak terima kasih atas kerja sama dan kontribusi yang telah diberikan terutama dari pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan karya ilmiah ini. Semoga kebaikan yang telah dilakukan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Terlepas dari semua itu penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan, baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca.
Cianjur, 25 Maret 2020
Penyusun,
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR..............................................................................................................................I
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................................ II
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah......................................................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan........................................................................................................................... 1
D. Manfaat Penulisan......................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................................... 3
A. Definisi Kalam Insya’iyah............................................................................................................. 3
B. Pembagian Kalam Insya’iyah........................................................................................................ 3
1. Kalam Insya’i Thalabiy .................................................................................................................4
2. Kalam Insya’ Ghairu Thalaby............................................................................................... 14
BAB III PENUTUP...............................................................................................................................16
A. Kesimpulan............................................................................................................................ 16
B. Saran...................................................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi manusia khususnya umat Islam melalui perantara malaikat Jibril. Al-Qur’an itu sendiri bukan hanya sekedar bait-bait tulisan Arab yang kemudian diterjemaahkan dan langsung bisa difahami.
Kekayaan bahasa dan makna Al-Qur’an menjadi salah satu titik fokus untuk ditafsirkan agar dapat difahami. Hal ini karena dalam Al-Qur’an itu sendiri terdapat ayat-ayat muhkam, mutasyabih, mutlaq, muqoyyad dan lain sebagainya.
Salah satu ilmu yang menjadi pendukung agar kita memahami tentang sebuah makna yang terkandung dalam Al-Qur’an yaitu dengan mempelajari Ilmu Balaghah. Balaghah adalah sebuah disiplin ilmu yang membahas cara-cara menyusun kalimat yang baik dan bernilai tinggi.
Pada makalah ini InsyaAllah penulis akan mencoba menjelaskan dan memaparkan tentang Al-Insya’ yang mana ilmu ini merupakan bagian dari ilmu balaghah yaitu Ilmu Ma’ani.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis kemukakan di atas, maka penulis perlu mengidentifikasi dan merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Definisi Kalam Al-Insya’iyah
2. Pembagian Kalam Insya’iyah
C. Tujuan Penulisan
Tujuan disusunnya makalah ini yaitu untuk mengetahui, menggali dan memahami tentang pengertian Al-Insya’ dan ketentuan-ketentuan yang berada di dalamnya. Selain itu, tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Ilmu Ma’ani yang mana dengan dosen pengampuh Ustadz Ayatullah, Lc.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk memberikan dan saling berbagi pengetahuan mengenai keilmuan tersebut, sebagai mana yang banyak disinggung pada poin sebelumnya yaitu pengetahuan tentang Al-Insya’.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kalam Insya’iyah
Kata “insya” mrupakan bentuk masdar dari kata “ansya” , kata tersebut bermakna membangun, memulai, kreasi, asli, menulis dan menyusun. Dalam ilmu kebahasa araban insyai merupakan salah satu nama mata kuliah yang mengajarkan menulis.
Insya sebagai kebalikan dari khobari merupakan bentuk kalimat yang setelah kalimat tersebut diturunkan. Tidak bisa bernilai besar atau dusta.
Dalam ilmu terminologi ilmu ma’ani kalam insya’i adalah :
مالايحتمل الصدق وا لكتاب
yaitu suatu kalimat yang tidak bisa disebut benar atau dusta, jika seorang mutakallim mengucapkan kalam insya’i maka mukhotthab tidak bisa menilai benar atau dusta perkataan mukallim. Misalnya jika seorang berkata اسمع yaitu dengarkanlah, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa ucapannya itu benar atau dusta. Yang mesti kita lakukan hanya menyimak ucapannya.
B. Pembagian Kalam Insya’iyah
Secara garis besar klaimat insya’i ada dua jenis, yaitu insya’i thalabiy dan insya’i ghair thalabiy.
Kalam yang termasuk kategori inysa’i thalabiy adalah amr, nahyu, istifham, tamanni dan nida. Sedangkan kalam yang termasuk kategori insya’i ghair thalabiy adalah ta’ajjub, mad al-dzamm, qasam, kata-kata yang diawali dengan af alur raja.
1. Kalam Insya’i Thalabiy
a. Amr
Secara leksikal amr bermakna perintah. Sedangkan amr dalam terminologi ilmu balaghoh adalah :
Tuntutan mengerjakan sesuatu kepada yang lebih rendah.
Untuk menyusun suatu kalam amr ada 4 shigah yang biasa di gunakan, yaitu :
1) Fi’il Amr
Semua kata kerja yang bershigah fi’il amr termasuk kategori thalabi.
2) Fi’il Mudhari yang disertai lam amr
Maknanya sama dengan amr yaitu perintah.
3) Isim Fi’il amr
Kata isim yang bermakna fi’il amr (kata kerja) termasuk shigot yang membentuk klam insya’i thalabi.
4) Masdar pengganti fi’il
Masdar yang posisinya berfungsi sebagai pengganti fi’il yng dibuang bisa juga bermakna amr.
Dari keempat shigah tersebut makna amr pada dasarnya adalah perintah dari yang lebih atas kepada yang lebih rendah. Namun demikian ada beberapa makna amr yang keluar dari makna aslinya. Makna-makna tersebut adalah do’a, iltimas (menyuruh yang sebaya), tamanni (berangan-angan), tahdid (ancaman), ta’jiz (melemahkan), taswiyah (menyamakan), takhyir (memilih), dan ibahah (membolehkan).
1) Do’a, yaitu menuntut suatu pekerjaan dengan cara merendah/sopan.
Contoh :
ربّنااغْفرْلناذُنوبناوكفّرْعنّا سيِّئاتنا
2) Iltimas, yaitu menuntut untuk melakukan sesuatu dari pihak yang sederajat kedudukannya, seperti permintan teman kepada temannya. Contoh:
يا صاحبي خذْ لي كوباً من القهوة
3) Makna irsyad
Amr juga bisa menunjukkan ma’na irsyat atau bimbingan jika perintah tersebut berisi pepatah atau nasehat. Contoh:
إذاأردتم النجاح في الامتحان فاجتهدوا فى الدراسة
4) Makna tamanny
Amr dapat menunjukkan makna tamanny, yaitu jika perintah itu ditujukan kepada sesuatu yang tidak berakal. Contoh:
يا عصافير, بلغ سلامى وشوقى اليها :
5) Makna ibahah
Amr terkadang menunjukkan makna ibahah, yakni kebolehan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Contoh:
كلوا واشربوا ولا
6) Makna takhyir
Makna lain dari amr adalah makna takhyiratau pilihan. Biasanya, konteks ini muncul jika ada dua perintah yang diajukan untuk dipilih salah satunya. Contoh:
عِشْ كَرِيْما أو مُتْ شَهِيْدً
7) Makna tahdid
Selain makna-makna diatas, amr terkadang menunjukkan makna tahdid yaitu perintah yang disertai dengan ancaman. Jika amr diungkapkan dalam konteks ini, maka pada dasarnya menunjukkan ”sindiran” atau ketidaksetujuan dari pihak yang memberi perintah tersebut. Contoh:
إعْمَلْ ما شِئْتَ فإنّكَ مَجْزيٌّ بِهِ
b. Nahyu
Makna nahyu secara leksikal adalah melarang, menahan, dan menentang. Sedangkan dalam terminologi ilmu balâghah nahyu adalah, Tuntutan meninggalkan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi.
Contoh: “Janganlah kamu sekalian mendekati zina! Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang sejelek-jeleknya. (al-Isra:32)
Pada ayat di atas Allah swt melarang orang-orang beriman berbuat zina. Al-Hasyimi mendefinisikan jumlah alnahy (kalimat melarang) sebagai tuturan yang disampaikan oleh pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah agar meninggalkan sesuatu perbuatan.
1. Nahi yang keluar dari arti aslinya
Terkadang Sighot Nahi itu keluar dari arti aslinya menjadi arti yang lain yang bisa dipahami dari maqom/Keadaan dan alur pembicaraan (Siyaqul kalam). seperti :
Do’a
yaitu tuntutan untuk meninggalkan suatu pekerjaan dengan cara merendah atau sopan. Contoh pada Firman Allah :
ﻓَﻼَ ﺗُﺸْﻤِﺖْ ﺑِﻲَ ﺍﻷَﻋْﺪَﺍﺀَ = Mohon Janganlah kau membuat gembira para musuh dengan melihatku (Surat Al-A’rof : 150) .
Iltimas
Yaitu Tuntutan meninggalkan suatu pekerjaan tanpa adanya Isti’la’ atau merendahkan diri. Seperti ucapanmu terdapap teman sebayamu :
ﻻَﺗَﺒْﺮَﺡْ ﻣِﻦْ ﻣَﻜَﺎﻧِﻚَ ﺣَﺘﻰ ﺃﺭْﺟِﻊَ ﺇﻟَﻴْﻚَ = Janganlah kau pindah dari tempatmu, sampai aku kembali padamu .
Tamanni , contoh :
ﻳَﺎ ﻟَﻴْﻞُ ﻃُﻞْ ﻳَﺎ ﻧَﻮْﻡُ ﺯُﻝْ ﻳَﺎ ﺻُﺒْﺢُ ﻗِﻒْ ﻻَ ﺗَﻄْﻠُﻊْ
Wahai Malam, panjangkan waktumu, wahai tidur hilanglah, wahai Waktu subuh berhentilah, janganlah kau nampak.
Tahdid (Mengancam)
Seperti ucapanmu kepada pelayanmu : ﻻَ ﺗُﻄِﻊْ ﺃَﻣْﺮِﻱْ = Jangan kau patuhi perintahku ! (Maka akan kau rasakan akibatnya).
c. Istifhâm
Kata ‘ Istifham ‘ merupakan bentuk mashdar dari kata ‘Istafhum‘. Secara leksikal kata tersebut bermakna meminta pemahaman/pengertian. Secara istilah istifhâm bermakna menuntut pengetahuan tentang sesuatu. Kata-kata yang digunakan untuk istifhâm ini ialah : Hamzah, hal, maa, man, mataa, ayyaana, kaifa, aina, annaa, kam, ayyu.
Suatu kalimat yang menggunakan kata tanya dinamakan jumlah istifhâmiyyah , yaitu kalimat yang berfungsi untuk meminta informasi tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya dengan menggunakan salah satu huruf istifhâm. Contoh kalimat tanya seperti: (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?)
Alat untuk bertanya :
1. Hamzah ( ﺃ )
Hamzah berfungsi untuk menuntut Tashowwur atau Tasdhiq.
والتصوُّرُ: هوَ إدراكُ المفرَدِ، كقولِكَ: (أعليٌّ مسافرٌ أَمْ خالدٌ؟)، تَعتقِدُ أنَّ السفَرَ حَصَلَ منْ أحدِهما، ولكنْ تَطْلُبُ تعيينَه؛ ولذا يُجابُ بالتعيينِ، فيُقالُ: (عليٌّ)، مَثلًا.
Tashowwur adalah mengetahui mufrod (sesuatu selain terjadinya penisbatan atau tidak) Seperti Ucapanmu : a ‘aliyyun musaafirun am khoolid ?” = Apakah Ali itu Orang yang pergi ataukah Kholid ?
dengan berkeyakinan bahwa bepergian itu dilakukan oleh salah satu dari keduanya, tetapi engkau menuntut kejelasannya, maka dari itu dijawab dengan menentukan salah satunya, semisal dijawab : “Ali”.
Tasdhiq yaitu mengetahui bahwa penisbatan antara dua perkara itu terjadi sesuai dengan fakta atau tidak. Contoh : a saafaro aliy = Apakah Ali telah pergi? engkau bertanya tentang terjadinya pekerjaan ”bepergian” atau tidak ? maka dijawab dengan ya atau tidak.
Sesuatu yang ditanyakan dalam Tashowwur itu Lafadz yang bersanding dengan hamzah dan adanya kata pembanding yang disebutkan setelah Am. Kata Am disini disebut : Am Muttasil.
Maka kamu akan mengucapkan ketika bertanya tentang Musnad ilaih : ”a anta fa’alta hadza am yusuf ? = Apakah kamu telah mengerjakan ini ataukah Yusuf ? dan bertanya tentang Musnad : a rooghibun anta ‘anil-‘amri am rooghibun fiihi ? = Apakah Kamu membenci perkara ini ataukah kamu menyukainya ? dan bertanya tentang Maf’ul bih.a iyyaaya taqshidu am khoolidan ? = Apakah aku yang engkau tuju ataukah kholid ? dan bertanya tentang Hal : “a rookiban ji’ta am maasyiyan ?” =Apakah dengan berkendaraan engkau datang ataukah dengan berjalan kaki ? dan bertanya tentang Dhorof : “a yaumul-khomiisi qadimta am yaumal-jum’ati ?” = Apakah pada hari kamis engkau datang ataukah pada hari jum’at ? dan begitu seterusnya. dan terkadang tidak disebutkan kata pembandingnya. Contoh : a anta fa’alta hadza? = apakah KAMU yg mengerjakan ini? A rooghibun anta ‘anil-amri? = apakah kamu MEMBENCI perkara itu?
A iyyaaya taqshidu? = apakah KEPADAKU maksudmu?
A rookiban anta? = apakah BERKENDARA kamu datang?
A yaumal-khomiisi qodimta? = apakah DI HARI KAMIS kamu datang?
Sedangkan Sesuatu yang ditanyakan dalam Tashdiq adalah Nisbat (keadaannya dalam aspek terjadinya sesuatu atau tidak) serta tidak adanya Lafadz pembanding. maka apabila Am terletak setelah Jumlah yang menunjukkan suatu nisbat, maka am itu dikira-kirakan sebagai Am Munqoti’ (terputus) dan bermakna seperti Bal (bahkan).
2. Hal (هل)
Berfungsi untuk menuntut Tasdhiq saja. Contoh : hal jaa-a shodiiquka ? = Apakah temanmu telah datang? jawabnya adalah ya atau tidak.
Maka dari itu tidak perlu menyebutkan Lafadz pembanding. maka tidak boleh diucapkan : hal jaa-a ahodiiquka am ‘aduwwuka? = Apakah temanmu telah datang ataukah musuhmu? . ﻫَﻞْ itu disebut Bashithoh , jika yang ditanyakan mengenai wujudnya sesuatu pada dzatnya. Contoh: hal al-‘unqo-u maujuudun = Apakah burung Anqo’ itu ada? dan disebut Murokkabah, jika yang ditanyakan mengenai wujudnya sesuatu pada sesuatu yang lain. Contoh : Ha tabyadhdhu al-unqo’ wa tufrikhu? = Apakah burung Anqo’itu bertelur dan menetas ?
3. Maa (ما)
Berfungsi untuk menuntut penjelasan suatu nama. Contoh : maa al’asjad ? = Apa ‘asjad itu ?. Maka dijawab : itu adalah emas maa lajain ? = Apa Lujain itu ?. Maka dijawab : itu adalah perak
atau berfungsi untuk menanyakan tentang hakikat suatu nama benda. Contoh : maa al-insan? = Apa hakikat Manusia itu? dengan menanyakan hakikat perorangan pada manusia, maka dijawab : bahwa perorangan manusia tidak bisa bertambah pada hakikatnya kecuali adanya hal-hal yang baru . atau berfungsi untuk menanyakan tentang keadaan (sifat) perkara yang disebutkan beserta maa. Seperti ucapanmu kepada orang yang mendatangimu : Maa Anta ? = Apa keperluanmu? (maka dijawab :”Aku berziaroh atau aku utusan dari Kholid” .
4. Man (من)
Berfungsi untuk menuntut kejelasan tentang orang-orang yang berakal. Contoh man fataha mishro = Siapa Orang yang menahklukan Mesir? maka dijawab : Amr bin Ash pada zaman pemerintahan Kholifah Umar bin Khotob.
5. Mataa (متى)
Berfungsi untuk menuntut kejelasan tentang waktu yang telah lewat atau yang akan datang (atau yang terjadi sekarang). Contoh : mataa ji’ta ? = Kapan Engkau datang ? maka dijawab : Waktu sahur Mataa tadzhabu ? = Kapan kamu akan pergi?(maka dijawab : sekarang atau besok) .
6. Ayyaana (أيان)
Berfungsi khusus untuk menuntut kejelasan masa yang akan datang. dan Lafadz ﺃَﻳَّﺎﻥ َ digunakan pada tujuan Tahwil (memandang besar suatu perkara). Seperti Firman Allah : yas’alu ayyaana yaumul qiyaamati? = Ia bertanya : kapankah Hari kiamat itu ?
7. Kaifa(ﻛَﻴْﻒ)
Berfungsi untuk menuntut kejelasan tentang suatu keadaan.
Contoh : Kaifa anta ? = Bagaimana keadaanmu?.
8. Aina (أنى)
Berfungsi untuk menuntut kejelasan tentang suatu tempat.
Contoh : aina tadzhabu ? = ke mana engkau akan pergi?.
9. Annaa (أنى)
Berfungsi seperti Kaifa contoh : annaa yuhyii hadzihi allaahu ba’da mautihaa? = Bagaimana Allah menghidupakan negeri ini setelah matinya (Ahli Qoryah) ?. (Surat Al-Baqoroh : 259). Berfungsi seperti Min Aina contoh (dalam Surat Ali Imron : 37) = yaa maryamu annaa laki hadzaa ? = Hai Maryam, Dari manakah makanan ini?.
10. Kam (كم)
Berfungsi untuk menuntut kejelasan tentang suatu hitungan yang samar.
Contoh : kam labitstum? = Berapa lama kalian berdiam diri?. (Surat Al-kahfi :19
11. Ayyu (أي)
Berfungsi untuk menuntut perbedaan salah satu dari dua perkara yang berkumpul dalam satu perkara yang mencakup keduanya.
Contoh : ﺃَﻱ ﺍﻟﻔَﺮِﻳْﻘَﻴْﻦِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣَﻘَﺎﻣًﺎ ؟ = Manakah Dua kelompok (Kafir dan Mu’min) yang lebih baik tempat tinggalnya ? . (Surat Maryam : 73)
Berfungsi juga untuk menanyakan tentang waktu, tempat, keadaan, hitungan orang yang berakal, dll dengan memandang pada lafadz yang disandarkan. Terkadang Lafadz-lafadz Istifham itu keluar dari arti aslinya menjadi arti yang lain, yang bisa dipahami dari alur pembicaraan (Siyaqul kalam). seperti :
Taswiyah (menyamakan)
Sama saja apakah kamu memperingatkan mereka atau tidak ? (Surat Al-Baqoroh :6)
Nafi (Meniadakan).
Tiadalah Balasan untuk berbuat kebaikan kecuali dengan berbuat kebaikan (Surat Ar-Rohman : 60) .
Ingkar (Mengingkari),
Apakah pada selain Allah kalian menyembah ? (Surat Al-An’am :40)
Bukankah Allah itu mencukupi Hamba-Nya ? (Surat Az-Zumar :36)
Amar (Perintah)
Maka Berhentilah !. (surat Al-Maidah : 91)
Maukah masuk islam ? !. (Surat Ali Imron : 20)
Nahi (Larangan)
Apakah kalian takut pada mereka? Padahal Allah itu lebih berhak kalian takuti. (Surat At-taubah : 13)
Tasywiq (Memotifasi)
Apakah Aku tunjukkan pada perdagangan yang menyelamatkan kalian dari siksa yang pedih ? (Surat Ash-Shof : 10).
Ta’dhim (Mengagungkan
Siapakah yang bisa memberi syafa’at disisi Allah tanpa Idzin-Nya ? (Surat Al-Baqoroh : 255)
Tahkir (Menghina)
Apakah hanya pada orang ini engkau sering memujinya ?.
d. Nidâ ( panggilan)
Secara leksikal nidâ artinya panggilan. Sedangkan dalam terminology ilmu balâghah Nidâ adalah tuntutan mutakallim yang menghendaki seseorang agar menghadapnya. Nidâ menggunakan huruf yang menggantikan lafazh “unâdî ” atau “ad’û ” yang susunannya di pindah dari kalâm khabari menjadi kalâm insyâi. Hamzah (ﺃ ) dan ﺃﻱْ untuk panggilan jarak dekat, sedangkan yang lainnya untuk panggilan jarak jauh.
Dan terkadang Panggilan jarak jauh diposisikan untuk panggilan jarak dekat, maka memanggil dengan Hamzah (ﺃ ) dan ﺃﻱْ untuk mengisarahkan bahwa karena sangat menginginkan kehadiran mukhotob dihati Mutakallim, maka seolah-olah mukhotob seperti orang yang hadir bersamanya, seperti ucapan Penyair:
Wahai Penduduk Na’man Arok (Lembah antara makkah dan Thoif), percayalah kalian bahwa kalian itu berada pada tempat hatiku.
e. Tamannî
Kalimat tamannî (berangan-angan) adalah kalimat yang berfungsi untuk menyatakan keinginan terhadap sesuatu yang disukai, tetapi tidak mungkin untuk dapat meraihnya, seperti:
“Ingin rasanya kami memiliki apa yang diberikan kepada Karun. Sesungguhnya dia benar-benar memperoleh keberuntungan yang besar”.
Dalam terminologi ilmu balâghah tamannî adalah menuntut sesuatu yang diinginkan, akan tetapi tidak mungkin terwujud. Ketidakmungkinan terwujudnya sesuatu itu bisa terjadi karena mustahil terjadi atau juga sesuatu yang mungkin akan tetapi tidak maksimal dalam mencapainya. Syi’ir di bawah ini merupakan contoh kalâm tamannî yang mengharapkan sesuatu yang mustahil terjadi.
Aduh, seandainya masa muda itu kembali sehari saja Aku akan mengabarkan kepada kalian Bagaimana yang terjadi ketika sudah tua
Pada syi’ir di atas penyair mengharapkan kembalinya masa muda walau hanya sehari. Hal ini tidak mungkin, sehingga dinamakan tamannî. Tamannî juga ada pada ungkapan yang mungkin terwujud (bisa terwujud) akan tetapi tidak bisa terwujud karena tidak berusaha secara maksimal.
2. Kalam Insya’ Ghairu Thalaby
Insya’ Ghairu Thalaby adalah kalimat yang didalamnya tidak menghendaki suatu permintaan. Insya’ ghairu thalaby bisa berbentuk, al-Madh wa al-Dzam,Shiyâgh al-’Uqûd, al-Qasam dan al-Ta’ajjub wa al-Raja’. Contoh : (Ahmad Hasyimi, 1960. 6)
a. al-Madh wa al-Dzam, menggunakan kata ni’ma, bi`sa dan habbadza, contoh:
نعم الكريم حائم…. وبئس البخيل مادر
b. Shiyaghu al-’Uqûd. kebanyakan menggunakan shîghah fi’il madhi, contoh:
بعتك هذا ووهبتك ذاك
c. al-Qasam, menggunakan wawu, ba’, ta’ dan lain sebagainya, contoh:
لعمرك ما فعلت كذا
d. Ta’ajjub, biasanya berisi dua pernyataan yang berkebalikan, contoh:
كيف تكفرون بالله وكنتم أمواتا فأحياكم (البقرة 28)
e. Raja’ biasanya menggunakan “asa” hariyyu (la’alla) dan ikhlaulaqa, contoh :
عسى الله أن يأتي بالفتح
Insya’ Ghairu thalabi biasanya tidak dibahas Ulama Balâghah karena kebanyakan bentuknya pada dasarnya merupakan kalâm khabar yang berlawanan dengan kalâm insya’. (Ahmad Hasyimi, 1960. 6)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kata “insya” merupakan bentuk masdar dari kata “ansya” kata tersebut bermakna membangun, memulai, kreasi, asli, menulis dan menyusun. Adapun kalam insya’i secara garis besar dibagi menajadi dua yaitu : Insya’ Thalabiy dan Insya’ Ghoir Thalabiy.
Termasuk kedalam insya’ thalabiy yaitu amr, nahyu, istifham, tamanni dan nida’. Sedangkan yang termasuk insya’ ghoir thalabiy yaitu al madh, wal dzam, al – qasam, taajub dan raja’.
B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini dapat diapstikan asih banyak kekurangan ataupun kesalahan baik dalam penulisan, tata bahasa dan lain sebagainya. Oleh karenanya penyusun tidak menutup diri unruk senantiasa menerima kritikan yang senantiasa di barengi oleh saran yang membangun yang bisa menambah wawasan bagi kami semua terkhususnya penyusun pribadi.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al kariim
Mamat Zaenudin dan Yayan Nurbayan, Pengantar Ilmu Balaghoh, (Bandung:PT. Refika Aditama, 2007), hlm.22

0 Response to "ILMU MA’ANIL QURAN INSYA ( THOLABI WA GHOIRI THOLABI )"
Posting Komentar